Sekilas apa itu "balian", adalah orang yang menjadi praktisi penyembuh alternatif di Bali khususnya, atau yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "Dukun". Biasanya sang dukun dilengkapi berkah untuk meramal dan atau menenung. Tergelitik sebuah status di medsos yg megatakan bahwa "meluasang di baas pipis berakibat puik masemeton, kebencianpun bertambah di gumine" (Bertanya ke orang pintar, malah berakibat retak persaudaraan, kebencianpun bertambah di dunia), maka saya tergerak untuk menulis ini. Fenomena balian, dasaran, pengiring, paranormal, cenayang, psychics, shaman, healer, Hellseher, dan entah apalagi istilahnya (selanjutnya untuk mempermudah tulisan, saya hanya pakai istilah pengiring saja) akan selalu ada di muka bumi. Saya rasa ini tidaklah penting untuk dipertentangkan dan diperdebatkan. Hanya membuang-buang energi yg tak perlu, mereka sama saja dengan penyedia jasa lainnya seperti dokter, bengkel, pijat dll. Maka masyarakat dihadapkan kepada pilihan bebas, bebas sebebas-bebasnya utk memakai atau tidak jasa mereka. Mereka hanya diam dirumah, tidak pernah promosi apalagi mengundang orang utk datang pada mereka. Sangat kebetulan, sahabat dekat saya adalah seorang pengiring yang ngayah metetambaan dan mebebawosan, di mana latar belakangnya dulu adalah seorang pekerja pariwisata, kemudian sempat menjadi seorang akuntan bank hingga karena sesuatu yang tidak bisa ia tolak, jadilah ia seorang pengiring. Dan kebetulan juga ia mempunyai banyak teman "seprofesi" yang akhirnya saya kenal juga. Mereka pengiring dgn berbagai latar belakang, bahkan ada yg dosen, executive chef, pengusaha, dll. Dalam banyak kesempatan, saya sering berdialog dengan mereka, di mana saya tetap tahu diri karena saya bukan pengiring, sehingga saya memposisikan diri sebagai penanya dan pendengar, namun demikian, ternyata wawasan yg saya dapat dari mereka bisa saya bagikan sekarang. Namun mohon dicatat bahwa ini hanyalah sebatas yg saya ketahui, tentunya dari mereka. Orang lain pastinya mempunyai pandangan, pengalaman, dan pemahaman yang berbeda sehingga ini tidak bersifat mutlak, hanya sebagai gambaran kasar dari fenomena yang ada. Lalu apa yang menjadi masalah sehingga muncul akibat sebagaimana di awal tulisan di atas? Dari hasil obrolan saya dengan mereka, saya melihat beberapa sebab, tetapi, sekali lagi, ini tidaklah mutlak. Saya akan lebih fokus untuk menyoroti fenomena di Bali terkait dgn problema di atas. Penyebabnya antara lain;
-
pengiring tidak memahami dan/atau melanggar kode etik.
Dalam dunia ngiring, mereka juga mempunyai kode etik, diantaranya harus dgn konsep ngayah kepada sesuhunan dengan cara ngayahin penangkilan. Kemudian kode etik lainnya dlm konteks ini yaitu tidak boleh menyampaikan kepada penangkilan tentang siapa yg "nyakitin". Bagi mereka, ini agak sulit dilakukan karena beberapa faktor, di antaranya,- desakan kuat dari penangkilan,
- membangun kesan biar kelihatan mumpuni,
- membangun kepercayaan dan keyakinan penangkilan,
- pengiring yang kurang tercerahkan.
- sesari
- goal/tujuan pengiring (ada yg ingin kekayaan, kawisesan/kesaktian, ada juga yg hanya ngiring sebagai jalan bhakti).
Mindset yang salah dari penangkilan.
Yaitu, ketika sakit, seharusnya yang dicari/ditunas adalah obat/tamba bukan malah mepeluasan. Kalau mapeluasan, yg didapat adalah bawos, bukan tamba. Isi bawos inilah yg sering menjadi sumber masalah ketika penangkilan tidak bisa mengelola logikanya dalam menyaring bawos. Akibatnya adalah, si sakit tidak kunjung sembuh malah puik dengan sameton, sedangkan semua itu adalah bawos yg sering tanpa disertai bukti. Metode atau cara tiap pengiring juga berbeda beda tergantung petunjuk sesuhunannya. Masalah yg timbul adalah, penangkilan sering membanding bandingkan metode antara satu pengiring dgn pengiring lainnya. Sehingga berakibat pada kurangnya keyakinan dalam mapinunas. Hal penting yang juga harus diingat adalah karma phala dari si sakit sangat berperan dalam hal ini. Dan tak kalah pentingnya, bahwa sang pengiring hanyalah perantara. Mereka juga mepinunas kepada sesuhunan, Bhatari Dalem dan Rajapati. Kadang dilema besar bagi pengiring adalah ketika sasuhunan mapica bawos bahwa si sakit akan segera meninggal, sementara penangkilan tentunya berharap kesembuhan. Di sini pengiring harus belajar diplomatis dalam menyampaikan sesuatu. pengiring juga sering mendapat ujian dari sesuhunan, misalnya ada bawos tentang cara dan waktu seseorang meninggal. pengiring harus kuat menahan godaan untuk menyampaikannya kepada yg bersangkutan. Seperti penuturan Mama Laurent di sebuah sesi wawancara di TV, beliau ditanya, "Mama enak ya? Bisa tahu masa depan". Mama balik tanya, "Apakah menurutmu enak menyaksikan anakku keluar rumah dan aku sudah mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan meninggal karena kecelakaan dan aku tidak bisa berbuat apa apa, karena itu sudah takdirnya?"Prosedur yang salah dari penangkilan.
Penangkilan sering mapinunas tanpa memahami prosedur yang benar. Prosedur yang benar adalah, sebelum mapinunas melalui pengiring, hendaknya diawali dengan nunas restu dari Ida Bhatara Hyang Guru. Kalau nunasang kesembuhan orang sakit juga harus mohon restu dari Ida Bhatari Dalem dan Ida Bhatari Luhur Rajapati setelah Bhatara Hyang Guru. Ritual ini bisa dilakukan dari sanggah pemerajan di rumah penangkilan dan ngayat Ida Bhatari Dalem Rajapati, baru kemudian berangkat menuju tempat pengiring.Permohonan yang salah dari penangkilan.
Yaitu menyampaikan permohonan yg menyimpang dari tujuan awal atau plin plan. Misalnya diawal dia matur piuning akan nunas tamba, tetapi ketika bertemu pengiring tujuan awalnya diabaikan misalnya menjadi fokus ke "siapa yang nyakitin", atau rejeki, atau problem hidup lainnya. Biasanya hal ini membiaskan fokus sehingga keyakinan akan kesembuhan menjadi terabaikan. Makanya terkait topik ini, dari pengiring ada ungkapan, "Yaning bawos tunas, bawos kaicen, yaning tamba tunas, sinah tamba kaicen".

No comments:
Post a Comment