Tuesday, May 19, 2020

RENUNGAN KECIL TENTANG IDENTIFIKASI DIRI, INTROSPEKSI DIRI, DAN KESEMPURNAAN

Keseimbangan

Identifikasi diri terhadap orang lain, pengertian mudahnya adalah gejala membanding bandingkan diri dengan orang lain.

Ini tergantung ke pada sosok siapa indentifikasi diri ini ditujukan, apakah selebritis, tetangga, guru2 spiritual, dan lain lain.

Kalau hal ini tak terkendali, maka orang akan menjadi sangat ambisius, rewel, merasa lebih pintar dan lebih benar dari yang lain, dan rempong karena selalu ingin lebih dari orang lain baik secara penampilan maupun gaya hidup, ataupun hal lainnya.

Berbeda dengan introspeksi diri, di mana seseorang melihat dirinya secara netral lalu berusaha menemukan cara berpikir, berucap, maupun bertindak yg keliru. Ini terjadi biasanya karena ada momentum pemicu. Dan tantangan berikutnya adalah memperbaiki kekeliruan yg telah dilakukan. Introspeksi sebenarnya sangat sulit dilakukan karena akan lebih banyak dipengaruhi oleh unsur kepentingan dan subjektifitas di dalam prosesnya. Dan di sinilah muncul pembenaran pembenaran yang belum tentu merupakan kebenaran. Jangankan kebenaran absolut, kebenaran normatif saja mungkin belum tentu, karena ukuran, jarak dan sudut pandang yang dipakai mungkin tidak pada tempatnya atau sangat terbatas. Jadi sangat penting dalam introspeksi diperlukan kenetralan dan kejujuran diri. Ini yang perlu sama sama dipelajari lebih jauh.

Ada gak cara lain? Mungkin kritik dari orang lain bisa membantu. Tetapi tidak semua orang suka dan rela menerima kritik.

Tapi sudahlah, Indentifikasi diri dan introspeksi diri akan selalu ada bukan karena manusia tidak sempurna. Manusia, hewan, tumbuhan dan seluruh ciptaan adalah sempurna. Jadi bohong kalau orang berkilah atas kesalahan atau kekeliruan yang telah dilakukannya dengan mengatakan, "Nobody is perfect" Alias gak ada manusia yang sempurna.

Mari kita tinjau sebuah perspektif lain tentang kesempurnaan itu.

Dalam perspektif ini, yang namanya kesempurnaan pastilah ada "rwa bhineda" atau dualitas di dalamnya, Kelemahan dan kekuatan, keunggulan dan kekurangan.

Jadi keliru rasanya ketika orang mengejar kesempurnaan dengan jalan sekuat mungkin menghilangkan kelemahan, kekurangan, dan keterbatasannya, karena ketika semua itu tidak ada maka seseorang justru tidak sempurna lagi. Segala keterbatasan hanya mampu disamarkan dengan kelebihan yang dianugrahi Tuhan. Atau setidaknya lebih menumpukan perhatian, pikiran, ucapan, dan tindakan pada hal hal yang membaikkan.

Kesempurnaan ini hendaknya bukan dipakai alasan untuk melakukan kesalahan dan kekeliruan. Makanya dalam dunia kerja ada yg dinamakan guideline, SOP, PNP, dan sejenisnya. Dalam kehidupan sosial ada yang dinamakan norma norma sosial, hukum, sanksi, dan pembelajaran yang bertujuan agar kekeliruan dan kesalahan bisa di tekan ke taraf yang bisa ditolerir.

Kesempurnaan dalam penampilan. Sepatu hak tinggi misalnya, dia tidak serta merta membuat tinggi badan bertambah, ini hanya menyembunyikan tinggi badan yg kurang. Begitupun hal lainnya dengan tujuan tampil sempurna.

Banyak orang yang ingin kesempurnaan tapi mengabaikan kepantasan dan kewajaran.
Sepertinya penting juga mengetahui batas kewajaran dan kepantasan.
Kalau sekedar belanja ke pasar mesti berpenampilan kayak Syahrini di atas panggung karena saking nge fans nya, lalu timbul indentifikasi diri terhadapnya, itu kayaknya sudah tidak wajar, mungkin akan dianggap kurang waras kali ya?
Trus kalo mau belajar ke kampus mesti nge jas kayak Afgan karena ingin tampil sempurna ya gak cocok juga...
Sepantasnya sajalah....

Tuhan kita yakini Maha Sempurna, Beliau menciptakan alam raya beserta kehidupannya dengan kealamian di mana unsur dualitas terdapat di dalamnya. Yang baik bagi manusia belum tentu baik untuk makhluk lain dan sebaliknya.

Jadi ketahuan kan siapa yg membuat kategori baik dan buruk? Sempurna gak sempurna? Ya pikiran manusia... sampai sampai William Shakespeare mengatakan, "Sebenarnya di dunia ini tidak ada baik dan buruk, hanya pikiran manusialah yang membuatnya begitu".
Kotoran manusia dibilang buruk oleh manusia padahal dia sendiri yg simpen dalam ususnya sampai pada saatnya di keluarkan. Trus setelah di luar (karena gak nemu WC) dia jadi baik buat tumbuhan dan bahkan jadi makanan binatang.
Biar kata secantik Julie Estele dan semasyur Lady Diana atau pun setenar Donald Trump kentutnya pasti bau juga.

Semua kategori dan pembedaan itu muncul betolak dari kepentingan manusia. Salahkah? Tentu tidak, karena manusia dibekali akal budi yang terus berkembang seiring waktu yang tentunya semakin paham apa yang baik buat dirinya juga lingkungan sosial dan alam sekitarnya.

Kesimpulannya, dalam kesempurnaan ada rwa bhineda atau unsur dualitas yang mesti ditempatkan sewajarnya.

Dari pandangan di atas, kayaknya hanya judul lagu yang "Sempurna" dan yang mendekati sempurna cuma rokok karena hanya baru sampai "Sampoerna"....

Tulisan ini hanya percikan permenungan dan ajakan untuk melihat sesuatu dengan cara berbeda dan sama sekali bukan untuk menggurui siapa siapa, apalagi menghakimi.

Salam kontemplasi!!

No comments:

Post a Comment