Friday, September 4, 2020

Kematian Yang Indah



Ilustrasi kematian
1 September 2020 pagi itu aku dibangunkan oleh suara Om Swastyastu di depan gerbang tua rumahku, sedangkan pintu rumahku sendiri cuma berpintu kayu lapis lapuk yang kusennya sudah hampir habis digerogorti rayap.

Dengan terhuyung aku bukakan pintu karena semalam aku begadang menyelesaikan pekerjaan sampingan untuk sekedar menambah pemasukan di masa Covid 19 karena aku kehilangan pekerjaan, sementara BLT tak kunjung sampai padaku.

Ternyata yang kubukakan pintu adalah Dek Koleng, adik sepupuku yg berpakaian adat Bali madya. Setelah kupersilahkan masuk, dia lalu memberitakan bahwa ibunya telah meninggal pagi itu dan akan dimandikan segera.

Dia lalu mohon diri dan akan melanjutkan memberitahu saudara saudara yang lain.

Aku sempat menyeruput kopiku sebelum bergegas ke rumah duka untuk membantu proses memandikan jenazah bibiku.

Tak ku lihat tangis duka di rumah duka karena memang bibiku ini sudah berusia lebih dari 80 tahun dan sudah lebih dari setahun terakhir mengidap diabetes. Jenazah begitu kurus dan masih hangat ketika kami mandikan lalu kami semayamkan di rumah duka sembari menunggu waktu kremasi yang dijadwalkan tanggal 4 September 2020.

Sesuai adat, kami magebagan, yaitu pada malam hari sejak meninggal dan jenazah masih harus disemayamkan di rumah untuk menunggu dewasa ayu/ hari baik untuk mengubur atau kremasi, kami yang merasa kerabat akan menunggui semalaman di rumah duka setiap malam, dan pada malam yang telah disepakati, seluruh warga banjar akan magebagan serentak di bawah komando bunyi kulkul (kentongan) banjar. Magebagan, selain memberi dukungan moral, juga bagian dari kebersamaan kami dalam menjalani kehidupan sosial secara adat.

Malam itu aku kembali merenung dan diingatkan bahwa setiap yang terlahirkan dan hidup pasti akan mati, hanya waktunya tetap menjadi rahasia alam.

Magebagan diisi dengan berbagai aktifitas, ada yang mengobrol mulai yang ringan sampai yang serius, ada yang sekedar bermain kartu, ada yang membaca isi sastra dengan mapalawakya, ada juga yang tertidur.

Aku dan beberapa warga terlibat dalam obrolan santai dengan topik yang mengalir begitu saja. Kami sampai pada topik kematian beberapa tokoh keluarga kami masing masing di masa lalu.

Nyoman Bontok mengungkapkan bahwa menjelang kematian ayahnya yang mantan seorang jaksa mengalami sakit yang berkepanjangan dan kegela-gela (berada dalam kondisi antara sadar dan tidak dalam waktu yang panjang, bahkan disertai kebingungan luar biasa). Dan setiap saat meminta agar kematian secepatnya menjemput, namun kematian tak kunjung tiba. Nyoman Bontok beranggapan bahwa mungkin karena dalam masa hidupnya, dalam masa menjabat sering berbuat dosa memperjualbelikan keadilan hukum dan juga menanam jimat dalam dirinya demi kewibawaan. Mungkin itu juga adalah buah dari perbuatannya (karma phala) di masa lalu, renung Man Bontok.

Ketut Semprong mengungkapkan ingatannya tentang adik kandung kakeknya yang mantan mucikari dan rentenir ternama di masa mudanya.

Masa kecil Ketut Semprong menyaksikan bagaimana beliau buta dan bingung luar biasa, bagaimana beliau teriak teriak tiap malam minta diantar pulang, bagaimana setiap pagi Semprong membuang kotorannya. Itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, mungkin setahun atau dua tahun tapi ia tak ingat persisnya sampai kematian menjemput adik kakeknya itu.

Cerita Semprong diakhiri dengan sebuah pertanyaan, "Apakah itu adalah bentuk karma phala?"
Kami bergumam, "Mungkin dan bisa saja".

Obrolan kami disela oleh Gede Sukra, salah seorang keponakanku yang membawakan kopi dan makanan ringan untuk kami yang magebagan.

Setelah menyulut sebatang rokok, Nyoman Ledeng, tanpa diminta menceritakan ingatanya tentang bibinya yang mantan pedagang di Pasar Kumbasari, Denpasar.

Bibinya adalah seorang janda tentara yang tewas karena kecelakaan mobil dan memutuskan untuk menjanda sepanjang sisa hidupnya. Untuk bertahan hidup, bibinya menjadi pedagang sembako karena mungkin tunjangan TNI tidak cukup bagi beliau untuk menghidupi 7 orang anaknya.

Menurut cerita Ledeng, bibinya pernah mencari penglaris. Mungkin bisa dimaklumi karena kerisauannya akan penghidupan untuk anak anaknya sehingga ia menempuh berbagai upaya. Nyoman Ledeng yakin bahwa bibinya itu adalah seorang wanita yang cantik di masa mudanya. Sisa kecantikannya masih tampak di usia senja. Sebagai janda cantik, bibinya pernah terlibat asmara dengan beberapa lelaki dan yang terakhir, bibinya diklaim telah terkena guna guna oleh seorang rekan bisnisnya yang berasal dari pulau seberang. Hal inilah yang diyakini membuat bibinya pernah bertingkah bagai orang yang hilang ingatan.

Ledeng sedikit terbatuk karena asap rokoknya sendiri. Kami sabar menunggunya menyeruput kopi sebelum ia melanjutkan ceritanya.

Puncak kejayaan sebagai pedagang besar dan sukses sempat diraih bibinya dan hidupnyapun mapan bersama anak anaknya.

Waktu bergulir dan kerentaan memaksanya untuk tinggal di rumahnya di Denpasar Utara sampai pada kondisi ia benar benar kehilangan seluruh ingatannya, baik tentang anak anaknya, keluarga lainnya, bahkan tentang dirinya sendiri. Keadaan ini berlangsung kurang lebih dua tahun.

Pada sebuah kesempatan, Nyoman Ledeng bertemu dengan Putu Ajus keponakannya, yaitu cucu langsung dari bibinya itu. Putu Ajus meminta agar Ledeng turut mendoakan kesembuhan neneknya. Nyoman Ledeng menyarankan agar memohon kepada Ida Hyang Guru agar menganugrahkan kesembuhan bila memang harus sembuh atau mempermudah dan mempercepat jalan kematiannya demi rasa iba melihat deritanya.

Mohonlah anugrah melalui air suci/tirta Hyang Guru dengan keyakinan penuh. Tak lama setelah ritual itu, terdengar kabar kematian bibinya itu.

Ledeng juga mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan, "Itukah karma phala?".

"Bisa jadi". Kataku membuka suara. Lalu aku teruskan dengan cerita ingatanku tentang kematian kakekku.

Kondisi hidupku semasa kecil sangat bersahaja sebagai orang desa. Kakek adalah seorang seniman Parwa (wayang orang) dan perupa kampung. Masa tuanya penuh dengan isi sastra dan kebajikan. Aku dua bersaudara lelaki dan adik sepupuku juga dua bersaudara lelaki. Kami hampir sepantaran dan kawan sepermainan yang begitu karib. Kakeklah yang selalu membuatkan kami mainan dari bahan alam, seperti bambu, pelepah pisang, pelepah kelapa, pelepah pinang dan lain sebagainya. Belum pernah sampai sekarang aku bertemu dengan orang sepenyabar itu. Wajahnya memang renta tapi tarikan keriput kulit wajahnya adalah gambaran wajah yang dipenuhi senyuman.

Suatu pagi warga banjar kami bergotong royong rutin membersihkan lingkungan. Ayahku bekerja menjadi montir jam, sehingga kakeklah yang mewakili gotong royong pagi itu. Bangkai ayam hitam hasil tabrak lari yang tergeletak di pinggir jalan dengan ikhlas ia kuburkan saat itu.

Sementara aku di tegalan sebelah rumah asik mengejar sepasang burung gagak yang bersuara dan hinggap di pelepah pohon pepaya yang cukup tinggi tapi sering aku panjat untuk kupetik buahnya. Usai kegiatan gotong royong, kakek meneruskan aktifitasnya memetik daun pisang untuk dibuat pelosan (wadah canang paling sederhana) untuk dijual. Sampai setelah waktu makan siang, aku bermain di depan rumah di samping ibuku yang sedang memarut kelapa.

Kakekku menemui ibuku dan berkata, "Tut, jani wa kal mesare, eda nyen gulgula, sambilang mesare uwa kal mejalan luas" (Tut, sekarang ayah mau tidur (siang), jangan diganggu, saat tidur ayah akan berangkat pergi (meninggal)).

Dengan nada meragukan ibuku bertanya, "Uwa kal nawang pejalan?" (Emangnya ayah tahu jalan?)

"Nah, cutetne eda uwa gulgula", (Iya, pokoknya jangan ganggu ayah) pungkas lelaki renta itu lalu beranjak ke bale daja (bangunan utara) untuk tidur di kamarnya.

Sekira jam 2 siang, ibuku memetik bunga di halaman rumah untuk dibuat canang. Kamar kakekku jelas terlihat dari halaman, dan ketika itu pintu kamarnya terbuka lebar. Dilihatnya kaki kiri kakekku tergelantung ke luar dipan. Dengan rasa penasaran, ibuku mendekati kakekku yang pulas tertidur dengan maksud membenahi letak kakinya kembali ke atas tempat tidur. Namun tanpa sangka kakekku didapati sudah tak bernyawa lagi, dan segera rumahku dipenuhi kehebohan seisi rumah.

Aku juga tutup ceritaku dengan sebuah pertanyaan, "Apakah itu juga bentuk karma phala?".

Mangku Rai yang sedari tadi menyimak sambil sesekali menyeruput kopi kemudian membuka suara, "Kita semua manusia, tak berwenang sama sekali menilai bahwa itu adalah karma phala, walaupun mungkin benar adanya. Tuhan pasti memiliki keadilan yang tak perlu diragukan lagi walau kita sebagai manusia dengan segala keterbatasan sering berkeluh atas keadilan Tuhan yang kita rasakan tidak adil".

Kami manggut manggut saja entah karena sudah mengantuk atau karena keseriusan menyimak.

Ku hisap rokok pelintinganku lebih dalam dan berkata dalam hati, "Dari semua cerita kematian yang kudengar malam itu, kematian kakekku adalah kematian terindah yang pernah aku tahu".

Kembali ke renunganku di awal bahwa setiap makhluk yang lahir pasti akan menemui ajal dan aku rasa ajal kakekku adalah ajal idaman, tugas beratnya adalah menggali pengetahuan lalu bertindak dalam jalan pengetahuan itu menuju jalan idaman.

No comments:

Post a Comment