Saturday, September 5, 2020

Polemik Vegetarian & Non Vegetarian, serta hubungannya dengan Lagu Iwan Fals

Tulisan ini sudah pernah saya share di sosial media, karena tergoda oleh polemik yang terjadi.
Tulisan ini didasarkan pada pengamatan saya pribadi juga atas rangkuman dari setiap pendapat yg mengemuka.
Mohon dicatat bahwa tulisan ini TIDAK dimaksudkan untuk menggurui siapa siapa, hanya semata-mata atas dorongan kebahagiaan untuk berbagi.

Mengapa kaum vegetarian dan non vegetarian masih berpolemik?

Mari kita telusuri, soal benar atau salah, semua kembali kepada penilaian anda sekalian.

Secara alamiah, makhluk hidup bergerak digolongkan menjadi 3 sesuai jenis makanannya, yaitu:
  1. Herbivora utk pemakan murni tumbuhan
  2. Carnivora utk pemakan murni daging.
  3. Omnivora utk pemakan baik daging maupun tumbuhan.


Manusia termasuk dlm golongan omnivora. Ini tidak terbantahkan. Artinya memang begitulah secara anatomis dan alamiah.

Memilih menjadi vegetarian TIDAK serta merta membuat seseorang menjadi suci. Begitupun orang yang bertahan dalam kealamiahannya menjadi makhluk omnivora TIDAK serta merta menjadikan orang itu kotor bergelimang dosa. Suci atau kotor kembali kepada pikiran, perkataan, dan perbuatan seseorang.

Yang menjadi persoalan adalah, "KEBANYAKAN" (bukan semua) orang vegetarian menganggap dirinya lebih tinggi/lebih baik secara spiritualitas lalu secara terbuka menempelkan alasan himsa dan ahimsa karma dalam jalan pilihannya, yang secara tidak langsung berarti memberi label dosa atau tidak dosa.
Bahkan ada yg beranggapan bahwa minum susu sapi pun sudah termasuk berdosa karena sama artinya dgn memakan daging sapi. Sementara mungkin ia lupa bahwa ketika masih bayi, ia juga minum susu manusia (ASI), lalu apakah ini dapat disamakan dengan makan daging manusia?
Dalam perjalanannya, di banyak rumah makan vegetarian juga menyediakan menu sate, bakso, pepes/tum vegetarian yg juga banyak diminati oleh kaum vegetarian. Kalau ini dipandang secara sinistis, ini berarti mengelabui pikiran karena kaum vegetarian sebenarnya juga ingin merasakan nikmatnya makan daging. Tetapi kalau dilihat secara positif, ini adalah hasil kreatifitas kuliner.

Tentu gagasan himsa dan ahimsa atau dosa dan tidak dosa seperti itu akan mendapat reaksi antipati dan atau defensif dari yg non vegetarian karena tidak terima dikatakan sebagai "pendosa".

Di sisi lain, tidak sedikit kaum non vegetarian yg bersikap sinis dan mencibir serta menggunjingkan mereka yg memilih jalan hidup sebagai vegetarian. Bahkan dengan sarkastis, mereka melemparkan retorika, "Kalau menganut ahimsa, koq masih pakai sepatu/alas kaki, dompet, atau jaket/pakaian dari kulit hewan?"
Lebih jauh lagi, sering pertentangan menjadi melebar kepada topik Himsa dan Ahimsa karma secara lebih luas. Misalnya kritik kaum vegetarian/pengikut Ahimsa tentang upacara kurban (caru), atau bebantenan yang berisi hewan kurban lainnya seperti babi guling, ayam panggang/betutu, dll dengan mengutip sumber sumber sastra sebagai pembenar.
Di sisi lain himsa itu diperbolehkan dalam empat hal, yaitu : dewapuja (upacara kepada dewa), atithipuja (persembahan atau suguhan pada tamu), walikramapuja (upacara korban caru), dan mempertahankan diri. (Warta Hindu Dharma NO. 481 Februari 2007 yang dikutip dari pustaka suci Wrtisasana pada halaman 2, kirtya II/b/78/1, dimuat di http://phdi.or.id/artikel/ahimsa-dan-himsa )

Dari sinilah bibit polemik bahkan konflik mulai muncul dan merebak dengan pembenar masing masing.
Kembali ke topik vegetarian dan non vegetarian dalam skup makanan.
Lalu dalam kapasitas apa kebanyakan (ingat! Tidak semua) kaum vegetarian berani dan merasa berhak memberi label dosa kepada orang lain yg memakan daging hewan? Sedangkan Tuhan saja medesain dan memberikan kodratNya kepada manusia sebagai makhluk omnivora.
Tidak memakan daging sapi pun masih bersifat sebuah himbauan karena ada unsur-unsur filosofis yang berperan di sini, buktinya masih banyak orang hindu yg tanpa beban mengkonsumsi daging sapi.
Bahkan jika seandainya tidak diatur hukum negara, hukum agama, dan humanisme, mungkin daging manusia pun bisa dimakan, tetapi pertanyaannya, tega atau tidak? Etis atau tidak? Wajar atau tidak? Dalam tatanan manusia modern, memangnya ada yang mau? Maukah menanggung konsekwensi jika esok anak anda dipakai menu utama makan malam oleh tetangga anda?

Secara harfiah ahimsa berarti “tidak menyakiti”, tetapi menurut Mahatma Ghandi pengertian seperti itu belum cukup, menurutnya ahimsa berarti menolak keinginan untuk membunuh dan tidak membahayakan jiwa, tidak menyakiti hati,tidak membenci,tidak membuat marah,tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan meperalat serta mengorbankan orang lain. Dengan kata lain ahimsa juga berarti "tanpa kekerasan".

Dalam kitab Manusmrti, seorang pengikut Ahimsa adalah seorang vegetarian dan tidak membunuh atau melukai/menyakiti makhluk.(wikipedia.org)
Maka sangat ironis jika pengikut ahimsa yg vegetarian justru menyakiti hati dan menyinggung perasaan orang lain dengan melontarkan sebuah penghakiman yang sama sekali bukan wewenangnya.

Dalam pendekatan yang lebih arif, kaum vegetarian mengatakan bahwa jenis makanan akan mempengaruhi karakter pemakannya. Sehingga makanan dikelompokkan sesuai tri guna, yaitu, makanan yg memunculkan sifat satwika, sifat tamasika, dan rajasika. Dipercaya bahwa sifat satwika adalah sifat terbaik yg harus dimiliki sehingga makanan satwika (makanan nabati) adalah pilihan yg tepat. Mungkin pendekatan ini yang paling bisa diterima secara lebih luas, walaupun karena keterbatasan saya, saya belum menemukan rujukan yg bersifat scientific mengenai hal ini. Ada juga yang memilih menjadi vegetarian dengan alasan kesehatan tubuh.

Kesimpulannya, vegetarian atau non vegetarian adalah pilihan jalan dalam melewati hidup.
Polemik bahkan konflik muncul karena masing masing mempunyai pembenaran, namun enggan untuk saling menghargai dan menghormati. Mungkin karena watak yg terbentuk dengan prinsip "mebareng-bareng", yang berakibat kepada sikap yang kurang atau bahkan tidak bisa menerima bahwa orang lain disekitar memilih jalur "berbeda", sehingga tanpa disadari, satu dengan yang lain saling mencoba mempengaruhi agar menjadi "patuh-patuh" dan "bareng-bareng".
Jadi, yang mesti ditumbuhkembangkan adalah rasa saling menghargai dan menghormati di antara kedua kaum, terutama pilihan jalan hidup dalam konteks vegetarian dan non vegetarian.
Yang memilih jalur vegetarian silahkan, tanpa harus menghakimi yg non vegetarian dengan label himsa karma ataupun dosa, karena disadari atau tidak, dalam proses bahan makanan vegetarian sampai siap saji, berapa serangga yg mati baik karena insektisida maupun dalam pengolahan bahan makanan? Dan bukankah tumbuhan juga makhluk hidup?
Soal dosa atau tidak memakan daging hewan dengan sewajarnya, biarkan itu kembali menjadi kewenangan Tuhan melalui hukum karma. Dan mesti diingat pula bahwa hukum karma juga tetap berlaku bagi penghakiman yang bukan wewenangnya.

Begitupun yang memilih jenis makanan sesuai kodrat sebagai makhluk omnivora juga silahkan, asal masih dalam taraf kewajaran. Jangan mencibir dan bersikap sinis kepada yg vegetarian. Itu saja, tidak lebih.

Dalam menjalani pilihan hidup vegetarian ataupun non vegetarian ada baiknya meminjam kutipan syair lagu Iwan Fals, "Berjalanlah hanya dengan diam".
Dan hentikan polemik ini dengan segera.

Salam rahayu.

No comments:

Post a Comment